Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

21 Apr 2014

Long weekend, menikmati liburan di Jakarta, hari ketiga


Kerja di Rumah dpt 2 juta        Omset Ratusan Juta dari Toko Online

Long weekend hari ketiga, 20 april 2014, hari Minggu.

Kali ini perjalanan liburan tidak jauh-jauh dari rumah. Sekedar untuk makan siang di Mal dekat dengan rumah, Mal Cilandak.

Pada awalnya, aku sempat ragu pergi ke arah Cilandak, karena biasanya akan macet di akhir liburan karena banyaknya pengunjung ke arah Kebun Binatang Ragunan. Tapi ternyata perkiraan tadi meleset. Jalan menuju Mal Cilandak sangat lancar.

Tujuan kali ini ke Cilandak adalah untuk mencicipi sushi. Tempatnya di Ichiban Sushi. Gampang dicari, dari pintu masuk utama, tinggal ambil ke sisi kiri. Di depan eskalator ada Ichiban Sushi. Atau ada juga pintu masuk langsung dari arah depan, di sampingnya pintu utama.

Sekedar info, di Cilandak ini, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tempat makannya sudah lumayan bervariasi dan enak. Dulu hanya ada McD, KFC ataupun Dundo, dan baru tahun terakhir kemarin sudah ada Gokana, Platinum, Bread Talk dan macam-macam termasuk buat menikmati Kopi juga ada tempat yang nyaman.

Kembali ke Ichiban Sushi, saat kami masuk kesana, kami disambut dengan ramah oleh karyawannya. Setelah kami mencari tempat duduk, kami disodori 2 menu. Dengan sabar si mba-nya menunggu pesanan kami. Dan dengan ramah pula, merekomendasikan menu yang enak. Aku pun tak sungkan menanyakan mana yang matang dan mana yang mentah. Maklum lah, ini adalah "percobaan" kedua untuk makan Sushi. Jadi masih bingung dengan menu dan juga harus bersiap dengan rasa dan sushi-nya itu sendiri.


Ichiban Sushi Cilandak


Kali ini aku memesan Shrimp Tempura Roll. Jenis Authentic Roll yang matang, dan merupakan salah satu menu yang direkomendasikan. Sedangkan istri lebih memilih Sake Sakura. Minuman ? Kami memilih Teh Ocha dingin refill sedangkan anakku dibelikan Milo kesukaannya.

Aku pikir setelah pesan, sushi akan langsung datang. Ternyata, ada "waktu" tunggu yang lumayan untuk setiap menu-nya. Aku tidak tahu apakah dibuat dulu (=dimasak ?) atau sedang diapakan dulu. Yang pertama datang ternyata Sake Sakura. Istri dan Nefertiti memakan dengan lahap. Katanya sih enak. Awalnya, anakku Nefertiti seperti merasakan aneh saat salmon-nya masuk mulut. Tapi setelah disuruh coba makan, akhirnya Nefertiti malah ketagihan, pun dengan istriku. Sekedar info, Sake Sakura itu menurut di menu, adalah Salmon dengan mayonaise dan black sesame dengan nasi di dalam lingkaran salmonnya. Harganya sekitar 25 - 28 ribu, 2 buah.


Sake Sakura


Pesananku datang tak lama setelah Sake Sakura datang. 4 potong Sushi (matang) dengan serutan wortel. Sempat ragu juga apakah bakal enak ? Apakah aku bakal muntah ? Karena terus terang, aku kurang suka bau amis ikan, dan jika makan ikan dan tercium bau ikan, aku bisa mual.

Tapi ternyata rekomendasi mereka untukku tidak salah. Setelah dicoba, Shrimp Tempura Roll nya enak, setidaknya, inilah Sushi yang aku suka :D
Rasanya memang tidak familiar di lidah, tapi aku tidak muntah. Keterlaluan saja kalau sampai muntah, padahal kan sushi jenis ini sushi matang. Memakannya dengan ditambah Shoyu, membuat lebih mantap. Yang membuatku kesulitan adalah cara makannya. Katanya makan Sushi harus sekali makan. Aku coba sekali makan, hap, langsung masuk ke mulut, dan akibatnya mulutku penuh dengan potongan sushi. Kedua pipi menjadi gembung dan sedikit kesulitan dalam mengunyah. Walaupun akhirnya habis juga.

Potongan kedua, aku coba dengan memakannya dua kali gigitan. Tapi ternyata sulit juga, karena sisa gigitan menjadi sedikit berantakan dan akhirnya benar-benar berantakan di piringnya. Jadi sepertinya lebih enak dimakan langsung satu kali hap saja.

Setelah habis, istriku ternyata ingin mencoba lagi jenis yang lain. Dan akhirnya memilih Tako Sashimi. Apa itu Tako Sashimi ? Itu Gurita yang di Sashimi, makan mentah. Dan untuk menu yang satu ini, kami juga harus menunggu beberapa saat hingga hidangan itu tersaji di meja. Tako Sashimi, 3 irisan Tako berwarna ungu dengan daging putihnya.

Kembali lagi, awalnya aku ragu memakan Tako Sashimi ini. Istriku yang ngiler. Setelah melihat dia memakannya dan mengatakan enak, maka akupun memberanikan diri mencicipinya. Aku lebih memilih menggunakan tangan dibandingkan menggunakan sumpit untuk makan Tako ini. Tapi tak lupa aku tambahkan Wasabi di tako-nya. Ingat, jangan terlalu banyak, karena cukup pedas dan rasanya aneh :P

Pertama gigit, kunyah, ternyata enak juga. Kenyal, tidak bau anyir ataupun amis. Cukup enak hingga irisan tako itu habis dengan variasi Shoyu ataupun Wasabi. Satu irisan habis olehku, satu oleh istriku dan satu oleh anakku.

Hahaha ... mungkin aku memang kampungan terhadap makanan yang satu ini. Entah pengunjung lain melihatnya seperti apa. Tapi, keingintahuan dan rasa penasaran terhadap sushi, membuatku mencari dan mencoba lagi. Dan sebelum pulang, kami membungkus Sake Sashimi, alias Si Salmon yang di Sashimi untuk kami makan di rumah.

Singkat kata, saat malam, kami baru membuka Sake Sashimi yang tadi siang dibeli. Oya, Sake Sashimi dibungkus dan diberi es batu diatasnya agar tetap segar. Saat tiba di rumah pun, langsung masuk kulkas sehingga tetap terjaga kesegarannya. Tiba saat mencicipinya, istriku sudah menyiapkannya lengkap dengan Shoyu, wasabi dan serbuk cabe-nya.


Sake Sashimi


Pertama makan, (setelah melihat istriku memakannya), aku coba potong dulu sedikit. Lalu memberi perasan jeruk lemon, lalu cocol serbuk cabe dan terakhir celup Shoyu. Terakhir, hap langsung dimakan. Rasanya ... aneh. Salmon-nya tidak terasa anyir, tidak bau amis, dingin dan cenderung tawar. Hanya ada rasa dari Shoyu serta bubuk cabe. Potongan kedua, aku kasih Wasabi di atasnya. Lumayan enak. Lama-lama, wasabinya enak juga. Bau-nya sebenarnya aneh, pedas, pokonya aneh.

Setelah "istirahat" sejenak, aku tidak bisa melanjutkan lagi memakannya. "Rasa" yang keluar dari dalam perut kembali ke mulut, membuat sedikit mual. Tercium bau ikan, walaupun sebenarnya "rasa" seperti itu juga sering tercium saat makan ikan goreng. Tapi, image mentah masih sangat melekat, walaupun sebenarnya cukup enak juga. Potongan terakhir sari salmon tersebut akhirnya dihabiskan oleh istriku juga.

Dan ... berakhir pula long weekend di Jakarta. Menikmati jalanan Jakarta, jajan di Jakarta dan juga menghabiskan uang di Jakarta :(

Untuk menu tadi,
Shrimp Tempura Roll, Sake Sakura, Tako Sashimi, Sake Sashimi, 2 Ocha dingin dan 1 gelas Milo, harus ditukar dengan sejumlah uang sebesar 170 ribu. Tapi puas. Rasa, pelayanan, keramahan, kesegaran, cukup sesuai dengan harga tersebut.

PS : Pelayannya masih bisa bersikap ramah dan full smiling walaupun anakku Nefertiti menumpahkan hampir 3/4 isi gelas Milo-nya membasahi meja, lantai serta celana ibunya

30 Nov 2011

Hari Pahlawan, 2011


Peringatan hari Pahlawan, pagi itu aku mengikuti upacara. 
Upacara, sesuatu yang saat aku sekolah dulu sangat ingin aku hindari, tetapi selalu bertemu di setiap hari senin. Kali ini, setelah aku bekerja, dan Upacara masih diberlakukan karena status pekerjaanku, hanya dilaksanakan sekali dalam sebulan.

Bulan November ini, upacara bulanan dilakukan tanggal 10 November untuk memperingati hari Pahlawan.  Ada keinginan untuk tidak mengikuti upacara, tapi lantas aku berpikir, ini kan hanya sebulan sekali. Dan ini salah satu tanggung-jawab kita sebagai warga negara, memperingati jasa pahlawan. Kita sekarang enak-enakan, dulu para pendahulu kita berjuang mati-matian demi keadaan damai sekarang ini. Masa, kita sekarang sekedar upacara saja bermalas-malasan ? Hargai dong, walaupun tak akan bisa dibandingkan.

Kuikuti upacara hingga selesai. Pengucapan Pancasila aku ikuti. (Aku teringat ada anggota dewan yang tidak bisa mengucapkan satu-persatu sila Pancasila). Hingga akhirnya upacara berakhir juga. Peserta membubarkan diri setelah aba-aba bubar.

Jalanan di sekitar lapangan masih ramai lalu-lalang kendaraan. Mengejar waktu meraup rejeki. Entah mereka ingat hari tanggal 10 November atau sekedar ingat bahwa hari itu tanggal 10 (20 hari lagi sebelum gajian :) ). 

Yang membuatku sedikit terusik, sebelum upacara dibubarkan, masih dalam posisi baris rapi, terdengar bunyi klakson sepeda motor berulang kali. Bunyi khas motor yang tergesa-gesa menyuruh motor di depannya segera maju karena lampu rambu sudah menyala hijau. Tipikal orang Jakarta.
Brow ... sabar sedikit lah, dikau tidak upacara, mungkin juga tidak mengingat kebaikan para pahlawan kita, setidaknya, hormati yang sedang melaksanakan upacara. Bahkan tidak ada acara mengheningkan cipta serentak se-Indonesia. 

Bersabarlah, dan melajulah dengan tertib, dasar .......

7 Nov 2010

Journey to Semarang


Perjalanan dimulai jam 5 dari rumah menggunakan ojeg. Melewati jalan bango tembus ke KKO cilandak lalu ke pasar minggu. Jalanan agak tersendat maklum aktivitas pasar sedang rame-ramenya. Lepas dari pasar jalan sangat-sangat lancar. Ya … hari minggu pagi, jakarta ga rame lalu lintas. Lepas dari pasar minggu melewati taman makam kalibata lalu ke dewi sartika, otista dan akhirnya kampung melayu, sampai juga di stat jatinegara. Angin dingin menerpa cukup menusuk badan yang hanya diselimuti baju tanpa jaket.

Tiba di stat, suasana ramai menyambut. Jam di stat masih menunjukkan angka 5.40. Keberangkatan keretaku ke semarang di tiket dituliskan pukul 7. 27. Hore … lamanya menunggu. Waktu harus dibunuh pelan-pelan. Aku beli koran Warta kota dan kompas. Ku baca koran warta kota dan duduk di lantai karena tidak ada satupun kursi tersedia di tempat pembelian tiket. Kursi untuk penumpang menuggu kereta hanya ada di peron. Hmmm … berita pembobolan beberapa ATM di Jakarta, Kalimantan dan Bali masih menjadi buah bibir. 

Permintaan alami tubuh untuk ke kamar kecil akhirnya mengantarku masuk ke peron. Langsung mencari toilet. Ah … yang namanya toilet di Indonesia apalagi di tempat umum seperti stat, jangan banyak berharap lah. Kondisi toilet cukup bersih dan tidak terkesan bau.

Tunggu punya tunggu, di peron banyak sekali calon penumpang berbagai jurusan. Ada yang hanya duduk menunggu, memberi makan perut mereka di kios-kios stat, merokok dengan santainya … bermacam-macam ulah manusia.

Jam menunjukkan pukul 7.25. Ada pemberitahuan dari petugas kereta ke semarang lewat jalur 1. Argo muria. Lah … kereta ku fajar utama semarang, kelas bisnis alias kelas yang mampunya aku beli. Tanya ke petugas peron, ternyata fajar utama setelah kereta argo muria. Jam 7.30 ada pemberitahuan lagi, kali ini kereta fajar utama. Kereta berhenti dan aku naik melalui gerbong 4 padahal di tiket tertera gerbong 2. Hore … jalan-jalan di gerbong. Dengan membawa koper yang rodanya terus menggelinding di atas gerbong, melewati penumpang yang memenuhi koridor, juga teriakan para pedagang menawarkan jajanannya. Waduh …

Melewati gerbong 3, kereta mulai beranjak meninggalkan stat. Berjalan bergoyang-goyang di atas kereta menuju gerbong 2 bertempur melawan arus penumpang di koridor gerbong. Akhirnya sampailah dengan selamat sentosa ke tempat dudukku di gerbong 2 kursi 9a. Piuh … istirahat sejenak. Koper taruh di atas, tas tetap dalam jangkauan tangan. Lumayan si Mac putihku menemani jika diperlukan. 

Kereta bisnis, tanpa AC, kipaspun tidak dinyalakan. Tidak tahu ga bisa muter atau memang tidak dinyalakan. Satu-satunya sumber angin ya dari jedela kecil. Panas … 8 jam perjalanan menunggu …

Kereta terus memacu jalannya. Berhenti di Bekasi, Kerawang. Ayo kita tengok toiletnya. Ada di ujung gerbong dekat pintu keluar, wah … kondisinya menyedihkan. Yang mau buang air besar gimana ya? Toiletnya jenis toilet duduk, tapi tutup dan lidah tempat duduknya sudah copot, Digoyang-goyang, toiletnya ikut goyang. Gimana kalo dinaiki/diduduki ya? Air ada dari keran. Bau wipol, ga bau amoniak, tapi ga bersih.

Kereta terus beranjak dan tak terasa sudah pekalongan. Lewat dari stasiun ini tanpa disadari menengok ke arah kiri terlihat laut. Wah … ternyata jalur kereta mepet juga ke pantai. Uniknya, di sebelah kiri terlihat pantai namun menengok ke arah kanan terlihat bebukitan.

Waktu menunjukkan pukul 14.30 saat kereta memasuki stat Semarang Tawang. Perlahan kereta menghentikan lajunya. Sampai akhirnya benar-benar berhenti dan para penumpang mulai antri ke arah pintu keluar. Welcome to Semarang.

23 Sept 2010

Orang Miskin ga berhak hidup !!!





Si Melon yang jadi pusat perhatian

Akhir-akhir ini, 'serangan' ledakan gas sering sekali terdengar. Hampir setiap harinya kita mendengar insiden ledakan gas ini. Entah karena kebocoran tabung, selang, regulator atau karena memang ada pengoplosan. Entah karena tabung yang kurang bagus.

Yang jadi korban, mereka yang sebagian besar mendapatkan jatah pembagian hasil dari konversi minyak tanah ke gas. Mereka yang dengan terpaksa harus mencicipi melon padahal mitan bagi mereka masih cukup manis. Masih cukup manis hingga adanya konversi yang menyebabkan mitan menjadi mahal. 

Setelah sekian lama menjadi pusat perhatian, menjadi topik liputan stasiun-stasiun TV, sosialisasi penggunaan tabung gas yang aman pun gencar dilakukan. Booom ... masih juga terdengar ledakan di sana sini. Masyarakat  semakin takut menggunakan tabung gas LPG. Kembali ke minyak tanah ? Mahal. Terus menggunakan LPG ? Takut meledak. 

Perhatikan iklan yang sedang gencar ditayangkan. 
Jika tercium bau gas, segera matikan alat listrik, bawa ke ruang terbuka.
Ruangan dapur harus memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang baik.
... .... ...
.........
.............
.......

Ya ... ruangan dapur harus memiliki ventilasi yang baik. Jika dapur (katakan 3 x 2 meter) tanpa ventilasi, gas yang bocor akan memenuhi volum ruang tersebut. Gas yang cenderung lebih berat dari udara, akan mengumpul di bagian bawah (di lantai). Tidak ada ventilasi dan sirkulasi udara yang baik, gas dari kebocoran terus menetap di ruangan dapur. Terus terakumulasi di dalam ruangan, dan BOOM ... percikan api entah dari listrik, rokok, pemantik dll menyulut gas dan meledakan seisi ruangan.

Sudah dikatakan, masyarakat harus memiliki dapur dengan ventilasi dan sirkulasi yang baik ! Udara yang keluar masuk diharapkan menyebabkan gas LPG tidak terkumpul di ruangan. Efek ledakan tidak akan sedahsyat jika kebocoran gas di ruang tertutup !

Ayo ... buat ruangan dapur tempat ibu-ibu menyimpan gas LPG menjadi nyaman, sirkulasi udara baik.

Ayo ... tunggu apa lagi ?!

Memangnya ga butuh dana, Bos ?

O iya betul. Untuk membuat dapur yang ideal, yang ada sirkulasi udara dan ventilasi yang baik, tentu saja butuh dana. Beda jika dapurnya memang sudah ideal. 
Masyarakat kita sepertinya banyak yang belum punya dapur ideal. 

Bukankah ini Tabung LPG 3 KG ? Atau memang Bom ?
Tambora, daerah padat di Jakarta. Melihat keadaan dapur di beberapa lokasi ledakan, sungguh tidak ideal. Tidak ada ventilasi untuk sirkulasi udara yang baik. Ruang dapur sangat kecil. Pernah pula rumah ledakan tabung, ukuran rumah (petakan) hanya sekitar 4 x 5 m. Sudah termasuh tempat untuk tidur, ruang kumpul keluarga, untuk memasak pula. Plafon mungkin sekitar 2 meter dari lantai. Ventilasi ? 

Ada pula kontrakan yang dapurnya sekitar 1 x 3 m. Ventilasi hanya dari pintu masuk dapur. Boom.
Inikah teroris ?

Apakah salah jika masyarakat kita miskin sehingga tidak bisa memiliki ruang dapur yang ideal dengan sirkulasi udara yang baik ? Apakah salah jika masyarakat kita miskin dan sangat terpaksa menggunakan LPG dan hidup dengan ketakutan ?

Jika saja Anda bukan orang miskin, Anda bisa membeli tabung gas yang lebih baik, bisa membeli regulator yang baik, bisa membeli kompor gas yang lebih baik, bisa membangun dapur Anda menjadi lebih baik, nyaman dan dengan ventilasi udara yang baik. Jika Anda bukan orang miskin, Anda bahkan tidak perlu kompor gas yang mahal, cukup angkat telpon, pesan Pizza, McD, KFC atau bahkan Martabak pun sudah menyediakan jasa antar ke rumah. Tidak perlu masak. Cukup duit.

Bahkan jika Anda super kaya, Anda hanya tinggal nganga, cuma buka mulut saja untuk bisa makan, pelayan Anda akan menyuapi Anda. 

Itu jika Anda kaya.

Jangan jadi orang miskin, karena jika miskin, Anda tidak bisa hidup. Anda hidup-pun dengan ketakutan menggunakan LPG. Anda harus puas disalahkan karena memiliki dapur yang kecil. Anda harus puas hidup tanpa mengeluh. Anda harus puas untuk selalu disalahkan karena tidak becus menggunakan kompor gas ! Anda harus puas karena Anda salah menggunakan regulator. 


22 Sept 2010

Pancasila ? Sudah lupa tuh ...






Berapa usia Anda sekarang? Apa tingkat pendidikan Anda sekarang ini ? Kapan terakhir kali Anda mengikuti Upacara Bendera ?

Apa lambang dari sila 'Kemanusiaan yang adil dan beradab' ?
a. Rantai Baja
b. Pohon Beringin
c. Padi dan Kapas

Dan si peserta pun tidak mampu menjawab, "PASS"
Dia pun lolos ke babak berikutnya karena alat bantu "PASS" tersebut. Bagaimana dengan 'lawan'nya yang berjumlah 100 orang ? Adakah mereka mampu menjawab pertanyaan di atas ?

Surprise !!! hampir setengahnya alias 50 peserta GAGAL atau SALAH menjawab lambang dari sila 'Kemanusiaan yang adil dan beradab' Apakah mereka juga tahu itu adalah bunyi sila ke berapa?

Kejadian ini adalah satu cuplikan kuis TV "satu lawan seratus" yang tayang di Indosiar. Kalau tidak salah tayang 20 Sept 2010. Koreksi jika salah.

Padahal, si peserta, seperti disebutkan Anjasmara, pemandu acara itu, adalah seorang Paskibraka. Ya ... mungkin dia sedikit lupa. Mungkin lebih hapal logo biru Facebook atau burung mungil Twitter. Garuda ? Sepertinya bukan di dadaku.


Menakjubkan, seorang cendikia tidak bisa menjawab soal yang sering diberikan di bangku sekolah dasar. Ya, sudah lulus ya sudah saja. It's Facebook time, man ! Twitter, BBM, YM. You'll be familiar with all these logo.

Pancasila dasar negara ... Rakyat adil makmur sentosa ...


Jadi teringat tayangan Metro TV sewaktu peringatan hari kelahiran Pancasila tahun ini (2010). Saat itu seorang presenternya mewawancarai beberapa anggota DPR, dia meminta anggota DPR (yang terhormat) untuk menyebutkan sila-sila Pancasila dari sila 1 sampai sila 5. Yang namanya anggota DPR, masa sih ga tau ? Bukannya sering diucapkan ? (hehe ... padahal ga pernah ikut rapat bareng anggota DPR (yang terhormat) )

Amazing ... surprise ...
Perkiraanku jika anggota DPR akan lantang menyebut satu persatu sila Pancasila, ternyata meleset. Aku lupa yang pertama kali diwawancara itu siapa, yang jelas seorang Bapak. Satu lagi seorang ibu dari partai berwarna merah, anak mantan Presiden kita. Yang ini aku ingat betul.

Saat diminta menyebutkan sila 1 sampai 5, si Ibu seperti agak meledek "ah kamu ini apa-apaan sih ... " tapi lanjutnya " sila pertama Ketuhanan ...." sampai sila ketiga atau keempat, dia mandek, sambil menaiki mobilnya, menengok ke belakang, "sila keempat gimana? "

Hmmm ... gimana ya ?
rakyat Indonesia masih banyak juga yang buat huruf, tidak sekolah. Wajar (walaupun bisa jadi mereka hapal bunyi sila Pancasila) kalau mereka tidak mampu menjawabnya. Ini ? Berpendidikan tinggi, berkedudukan terhormat. OMG. Kalo ga ya siap-siap ngapalin dulu. Peristiwanya kan peringatan hari kelahiran Pancasila, ditanya saat usai peringatan kelahiran Pancasila. Trus di acara peringatan kelahiran Pancasila tuh ngapain aja ?

Satu lagi yang diwawancara presenter Metro TV, Akbar Tanjung. Apa Pa Akbar juga tidak bisa menjawab ? 
Eits ... ternyata tidak semua anggota Dewan tidak bisa menjawab. 
'Apakah Bapak bisa menyebutkan sila Pancasila dari 1 sampai 5 ?' Tanya Presenter itu. Dengan lantang, Pa Akbar menjawab ' Ya tentu dong ... nih ... sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, ketiga Persatuan Indonesia, keempat Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.'

Mantap ! 

Kalo kata Rianti Cartwright "Good job, i like that, good job"

1 Sept 2010

Ini dia gedung supermewah DPR






Rancangan 1,16 Triliun Rupiah, 36 lantai, lengkap dengan fasititas. Hmm ... ditengah ramainya petasan dan ledakan gas 3 kg, disaat "rakyat" yang diwakilinya hanya bisa memiliki ruang yang cukup untuk berbaring saja, disaat "rakyat" yang diwakilinya dag-dig-dug menggunakan gas 3 kg dan belum ada jaminan keamanan penggunaan gas tersebut, anggota dewan terhormat selaku wakil rakyat bersiap untuk semakin menikmati buah karya tidur-nya selama ini di ruang rapat.

Apa yang salah jika wakil rakyat "kita" memiliki gedung super wah ini? Tak ada yang salah, dan kita harusnya bangga bahwa bangsa kita bisa menyediakan gedung indah ini untuk para anggota dewan. 
Tapi apa tidak sebaiknya lirik kanan lirik kiri, tengok depan dan belakang juga. Masih banyak rakyat yang diwakilinya yang hanya hidup seadanya, bahkan tanpa rumah, atau rumah gerobak.

Sering ku lihat saat tugas lapangan, bagaimana mereka yang di Tambora-Jakarta hanya bisa tinggal di kontrakan selebar tinggi badan mereka saja. Bagaimana mereka hanya bisa berteduh dibawah pohon rimbun saja. Hidup penuh ketakutan dari ledakan gas melon. Bagaimana mungkin mereka menyediakan ruang dapur dengan ventilasi baik, regulator SNI, selang SNI agar tidak terjadi ledakan, padahal mereka cari makan-pun sulit. 

Tak ada ide pembangunan apartemen super untuk menampung mereka. Tak ada pembagian makan gratis rutin setiap hari untuk mereka. Yang ada hanya rumah yang semakin baik, semakin wah untuk para anggota dewan yang mewakili (entah mewakili siapa).

31 Aug 2010

Gedung Supermewah DPR





Metro TV, 31 Agustus 2010, 21.15 WIB

Kukira acara dagelan sudah usai. Ternyata baru saja di Metro TV, aku dibuat tertawa terbahak-bahak menyaksikan berita ini. Dikabarkan DPR akan membangun suatu gedung mewah 30 lantai lebih, dengan biaya 1 T lebih yang sebagian mulai diambil dari dana APBN 2010.

Berita ini bener2 membuat aku tertawa. Ko bisa ya mereka bikin lelucon seperti itu. Apa ruang sidang atau ruang rapat belum cukup luas untuk tempat tidur kaum terhormat?
O... mungkin biar ga kesiangan, jadi dibangun gedung itu untuk menginap, jadi ga ada lagi titip2 absen gara-2 kesiangan. Bisa aja kan?

Dengan luas kantor untuk satu anggota terhormat seluas 120 m2, rasanya cukup nyaman untuk berbaring. Atau untuk main petak umpet ?

Baru saja siang tadi kembali dari tugas luar. Menyusuri area Sunter, Jakarta Utara. Aku mengunjungi rumah yang luasnya sekitar 30 m2, dengan toilet di bagian luar yang digunakan bersama2 penghuni lainnya. Ada juga di daerah Cengkareng, luas rumahnya hanya sekitar 20 m2, sudah termasuk "ruang" tamu, "ruang" makan, "kamar" tidur dan dapur. Hebat, efesiensi dan efektif, tinggal di "rumah" seukuran 20 m2, dengan plafond yang bisa dijangkau tangan sambil kaki jinjit di lantai.

Bayangkan jika 120 m2 untuk wakil "entah siapa" dijadikan hunian kaum "miskin" Jakarta. Hilangkan furnish, convert untuk modal usaha ? Apakah akan efektif ? Daripada 120 m2 hanya untuk tidur berguling2 karena tidak puas hanya bersandar di dudukan kursi ruang rapat.

Ataukah mereka harus mengikuti tour "daerah-miskin-Jakarta" seperti yang dilakukan para bule beberapa bulan lalu, yang membuat sebagian pejabat meradang? Ya ... mungkin si bule berpikiran, daripada elu ga pernah vacation ke daerah miskin, mending gue ...

Ya ... lumayan untuk mengakhiri kepenatanku hari ini, akhirnya bisa tertawa juga menyaksikan acara TV yang dari tadi hanya sinetron dan sinetron saja.


CMIIWW

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls