Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

21 Apr 2014

Long weekend, menikmati liburan di Jakarta, hari ketiga


Kerja di Rumah dpt 2 juta        Omset Ratusan Juta dari Toko Online

Long weekend hari ketiga, 20 april 2014, hari Minggu.

Kali ini perjalanan liburan tidak jauh-jauh dari rumah. Sekedar untuk makan siang di Mal dekat dengan rumah, Mal Cilandak.

Pada awalnya, aku sempat ragu pergi ke arah Cilandak, karena biasanya akan macet di akhir liburan karena banyaknya pengunjung ke arah Kebun Binatang Ragunan. Tapi ternyata perkiraan tadi meleset. Jalan menuju Mal Cilandak sangat lancar.

Tujuan kali ini ke Cilandak adalah untuk mencicipi sushi. Tempatnya di Ichiban Sushi. Gampang dicari, dari pintu masuk utama, tinggal ambil ke sisi kiri. Di depan eskalator ada Ichiban Sushi. Atau ada juga pintu masuk langsung dari arah depan, di sampingnya pintu utama.

Sekedar info, di Cilandak ini, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tempat makannya sudah lumayan bervariasi dan enak. Dulu hanya ada McD, KFC ataupun Dundo, dan baru tahun terakhir kemarin sudah ada Gokana, Platinum, Bread Talk dan macam-macam termasuk buat menikmati Kopi juga ada tempat yang nyaman.

Kembali ke Ichiban Sushi, saat kami masuk kesana, kami disambut dengan ramah oleh karyawannya. Setelah kami mencari tempat duduk, kami disodori 2 menu. Dengan sabar si mba-nya menunggu pesanan kami. Dan dengan ramah pula, merekomendasikan menu yang enak. Aku pun tak sungkan menanyakan mana yang matang dan mana yang mentah. Maklum lah, ini adalah "percobaan" kedua untuk makan Sushi. Jadi masih bingung dengan menu dan juga harus bersiap dengan rasa dan sushi-nya itu sendiri.


Ichiban Sushi Cilandak


Kali ini aku memesan Shrimp Tempura Roll. Jenis Authentic Roll yang matang, dan merupakan salah satu menu yang direkomendasikan. Sedangkan istri lebih memilih Sake Sakura. Minuman ? Kami memilih Teh Ocha dingin refill sedangkan anakku dibelikan Milo kesukaannya.

Aku pikir setelah pesan, sushi akan langsung datang. Ternyata, ada "waktu" tunggu yang lumayan untuk setiap menu-nya. Aku tidak tahu apakah dibuat dulu (=dimasak ?) atau sedang diapakan dulu. Yang pertama datang ternyata Sake Sakura. Istri dan Nefertiti memakan dengan lahap. Katanya sih enak. Awalnya, anakku Nefertiti seperti merasakan aneh saat salmon-nya masuk mulut. Tapi setelah disuruh coba makan, akhirnya Nefertiti malah ketagihan, pun dengan istriku. Sekedar info, Sake Sakura itu menurut di menu, adalah Salmon dengan mayonaise dan black sesame dengan nasi di dalam lingkaran salmonnya. Harganya sekitar 25 - 28 ribu, 2 buah.


Sake Sakura


Pesananku datang tak lama setelah Sake Sakura datang. 4 potong Sushi (matang) dengan serutan wortel. Sempat ragu juga apakah bakal enak ? Apakah aku bakal muntah ? Karena terus terang, aku kurang suka bau amis ikan, dan jika makan ikan dan tercium bau ikan, aku bisa mual.

Tapi ternyata rekomendasi mereka untukku tidak salah. Setelah dicoba, Shrimp Tempura Roll nya enak, setidaknya, inilah Sushi yang aku suka :D
Rasanya memang tidak familiar di lidah, tapi aku tidak muntah. Keterlaluan saja kalau sampai muntah, padahal kan sushi jenis ini sushi matang. Memakannya dengan ditambah Shoyu, membuat lebih mantap. Yang membuatku kesulitan adalah cara makannya. Katanya makan Sushi harus sekali makan. Aku coba sekali makan, hap, langsung masuk ke mulut, dan akibatnya mulutku penuh dengan potongan sushi. Kedua pipi menjadi gembung dan sedikit kesulitan dalam mengunyah. Walaupun akhirnya habis juga.

Potongan kedua, aku coba dengan memakannya dua kali gigitan. Tapi ternyata sulit juga, karena sisa gigitan menjadi sedikit berantakan dan akhirnya benar-benar berantakan di piringnya. Jadi sepertinya lebih enak dimakan langsung satu kali hap saja.

Setelah habis, istriku ternyata ingin mencoba lagi jenis yang lain. Dan akhirnya memilih Tako Sashimi. Apa itu Tako Sashimi ? Itu Gurita yang di Sashimi, makan mentah. Dan untuk menu yang satu ini, kami juga harus menunggu beberapa saat hingga hidangan itu tersaji di meja. Tako Sashimi, 3 irisan Tako berwarna ungu dengan daging putihnya.

Kembali lagi, awalnya aku ragu memakan Tako Sashimi ini. Istriku yang ngiler. Setelah melihat dia memakannya dan mengatakan enak, maka akupun memberanikan diri mencicipinya. Aku lebih memilih menggunakan tangan dibandingkan menggunakan sumpit untuk makan Tako ini. Tapi tak lupa aku tambahkan Wasabi di tako-nya. Ingat, jangan terlalu banyak, karena cukup pedas dan rasanya aneh :P

Pertama gigit, kunyah, ternyata enak juga. Kenyal, tidak bau anyir ataupun amis. Cukup enak hingga irisan tako itu habis dengan variasi Shoyu ataupun Wasabi. Satu irisan habis olehku, satu oleh istriku dan satu oleh anakku.

Hahaha ... mungkin aku memang kampungan terhadap makanan yang satu ini. Entah pengunjung lain melihatnya seperti apa. Tapi, keingintahuan dan rasa penasaran terhadap sushi, membuatku mencari dan mencoba lagi. Dan sebelum pulang, kami membungkus Sake Sashimi, alias Si Salmon yang di Sashimi untuk kami makan di rumah.

Singkat kata, saat malam, kami baru membuka Sake Sashimi yang tadi siang dibeli. Oya, Sake Sashimi dibungkus dan diberi es batu diatasnya agar tetap segar. Saat tiba di rumah pun, langsung masuk kulkas sehingga tetap terjaga kesegarannya. Tiba saat mencicipinya, istriku sudah menyiapkannya lengkap dengan Shoyu, wasabi dan serbuk cabe-nya.


Sake Sashimi


Pertama makan, (setelah melihat istriku memakannya), aku coba potong dulu sedikit. Lalu memberi perasan jeruk lemon, lalu cocol serbuk cabe dan terakhir celup Shoyu. Terakhir, hap langsung dimakan. Rasanya ... aneh. Salmon-nya tidak terasa anyir, tidak bau amis, dingin dan cenderung tawar. Hanya ada rasa dari Shoyu serta bubuk cabe. Potongan kedua, aku kasih Wasabi di atasnya. Lumayan enak. Lama-lama, wasabinya enak juga. Bau-nya sebenarnya aneh, pedas, pokonya aneh.

Setelah "istirahat" sejenak, aku tidak bisa melanjutkan lagi memakannya. "Rasa" yang keluar dari dalam perut kembali ke mulut, membuat sedikit mual. Tercium bau ikan, walaupun sebenarnya "rasa" seperti itu juga sering tercium saat makan ikan goreng. Tapi, image mentah masih sangat melekat, walaupun sebenarnya cukup enak juga. Potongan terakhir sari salmon tersebut akhirnya dihabiskan oleh istriku juga.

Dan ... berakhir pula long weekend di Jakarta. Menikmati jalanan Jakarta, jajan di Jakarta dan juga menghabiskan uang di Jakarta :(

Untuk menu tadi,
Shrimp Tempura Roll, Sake Sakura, Tako Sashimi, Sake Sashimi, 2 Ocha dingin dan 1 gelas Milo, harus ditukar dengan sejumlah uang sebesar 170 ribu. Tapi puas. Rasa, pelayanan, keramahan, kesegaran, cukup sesuai dengan harga tersebut.

PS : Pelayannya masih bisa bersikap ramah dan full smiling walaupun anakku Nefertiti menumpahkan hampir 3/4 isi gelas Milo-nya membasahi meja, lantai serta celana ibunya

20 Apr 2014

Long weekend, menikmati liburan di Jakarta, hari kedua, bagian kedua


Kerja di Rumah dpt 2 juta        Omset Ratusan Juta dari Toko Online

Setelah sebelumnya gagal makan di resto Godong Ijo, kami meneruskan perjalanan untuk makan siang di tempat lain.

Saat memasuki tempat ini, sudah beberapa mobil terparkir rapi. Lesehan pun banyak ditempati. Dan kebetulan ada yang kosong, namun masih berantakan. Sisa piring kotor masih belum dibereskan. Entah kurang sigap atau memang karyawannya yang sedikit.

Tempat makan berupa lesehan

Tunggu punya tunggu, tidak ada pelayan satupun yang datang menghampiri. Lama juga duduk menunggu, sekalian mengawasi anak-anak bermain ayunan. Akhirnya aku ke area depan, menghampiri salah satu pelayan pria nya. "Mas itu tolong saya mau di lesehan di sana" kataku pada pelayannya. "Oh ... tapi itu belum dibereskan ..."

Maksudnya gimana ya? Apa aku yang harus membereskannya sendiri.

Akhirnya menunggu lagi, tapi piring kotor belum juga dibereskan. Sampai kembali aku ke area depan, kali ini bertemu dengan si teteh nya. Mungkin dia lebih punya power. Kali ini aku minta dia, bahwa kita mau di lesehan tapi itu masih kotor. Dan si Teteh kemudian menyuruh pelayan pria lainnya untuk segera membereskan meja nya. ARgfsdgkjshva .... sempat kesel juga, tapi melihat anak-anak yang cuek main, ya sudah dibiarkan saja.

Menu sudah dipesan, 2 pecak ikan mas bakar, 1 sop iga, 3 nasi plus lalap dan sambal. Teh botol 2 sebagai pelengkap.

Menu yang kami pesan ternyata tidak perlu ditunggu lama. Sop Iga datang lebih cepat, disusul pecak. 2 piring pecak ikan mas bakar. Nasi hangat dan lalap serta sambal. Sayangnya, lalapan hanya dua jenis, mentimun dan daun pohpohan, itupun daunnya sudah layu, tidak segar. Padahal sambalnya bikin segar, sayang tidak ditunjang oleh kesegaran lalapnya.

Tapi yang paling membuat segar saat itu, pecak-nya. Muantap segar di saat suasana sedang lumayan terik. Pertama yang dicicipi jelas kuahnya. Segar. Ada asemnya, sedikit asin, agak pedas pokonya bercampur aduk memberi kesegaran yang pas. Ikan mas nya juga masih segar. Matang dengan cara dibakar. Tapi sepertinya cara membakarnya dengan api besar, jadi kulit ikannya cenderung gosong. Dan gosongnya ini memberi efek pahit karena terlarut dengan kuah pecaknya. Tapi kesegaran daging ikan mas cukup terjaga. Tanpa banyak bumbu, daging ikannya lebih terasa. Hati-hati dengan duri-duri lunaknya, karena ikan mas memang tidak di presto :P

Pecak Ikan Mas
Selesai makan, dengan tangan masih bergerilya menahan keinginan si kecil mondar-mandir di tempat ini, ada satu kejadian yang cukup mengganggu. Di ujung tempat lesehan, saat si kecil berjalan kesana, dia terperosok disana. Ternyata, kayu lantai lesehan sudah bolong, dan tidak terlihat karena tertutup tikar. Aku sempat khawatir karena kayu pecahannya terlihat tajam. Langsung kulihat kaki anakku, tapi dia sepertinya tidak terluka. Hanya kaget karena kakinya jatuh terperosok. Mudah-mudahan pengunjung yang lainnya tidak mengalami hal ini.

Selepas kenyang dengan makanan disini, akhirnya perjalanan liburan hari kedua berakhir dan kami melanjutkan perjalanan pulang melalui jalan Meruyung Limo, melewati Masjid Kubah Mas hingga akhirnya tiba di rumah dengan selamat walaupun di perjalanan diguyur hujan sangat lebat.

31 Mar 2014

Nama menu kuliner paduan western Indonesia


Minggu pagi itu, kami pergi ke Pizza Hut. Biasa aja. Tempatnya samping Cinere Mall. Tumben, walaupun masih terbilang pagi, tapi parkiran mobil hampir penuh.

Ya hampir penuh, toh parkiran mobil cuma untuk lima mobil, dan 3 sudah terisi, satu buat kami, dan satu lagi mobil di belakang kami yang ternyata ke tempat itu juga.
Suasana di dalam tidak terlalu ramai, dan kebanyakan pengunjung memilih meja di samping jendela ke arah Cinere Mall. Begitupun kami. Dan karena sorotan cahaya Matahari, pelayannya menurunkan tirai agar tidak terlalu panas. Tak lupa anakku meminta balon, yang balonnya harus menunggu dulu karena belum ditiup.

Walaupun makan di Pizza Hut, tapi hari itu tidak ada Pizza yang kami pesan, hanya sosis, cheese roll dan fusili. Nah, saat sedang membolak-balik menu, aku sedikit memperhatikan, ternyata selain makanan, ada juga "nama makanan" yang merupakan paduan western-Indonesia. Namanya Nasi Beef Bawang.

Awalnya aku mengernyit, lho kenapa Beef bawang, kenapa bawang, bukan union. Dibaca lebih lengkap, ko didepannya ditulis Nasi, Nasi + Beef + Bawang ? Aku jelas belum pernah merasakan jenis masakan seperti itu. Mungkin enak. Tapi ya yang menggelitik ya namanya itu. Bisa-bisa aku dimarahi Pa Karnita, guru bahasa Indonesiaku semasa SMA. Tidak konsisten, begitu beliau mengatakan. Dan setahuku, kalau bahasa asing, penulisannya cetak miring. Ya tapi itu kan untuk karya-karya ilmiah.

Masalah menu kan hak prerogatifnya yang punya masakan. Apa salah penamaan seperti itu ? Toh akhirnya konsumen seperti aku jadi mudah mengingatnya. Dan mungkin itulah tujuannya. Tujuan promosi yang gampang. Membuat orang cepat mengingat, dan membuat penasaran, hingga akhirnya ingin mencicipi, dan tercapailah sales yang diinginkan. Memang sulit untuk membuat kalimat yang EYD. Toh penggunaan kalimat dengan EYD juga harus sesuai lingkungannya. Apa iya kita mau menggunakan kata-kata dengan EYD di pergaulan kita sehari-hari ? Sepertinya sinetron banget ya ?

BTW, apa karena waktu kami datang itu  akhir bulan atau apa, saat kami pulang meninggalkan meja, pun para konsumen lainnya, tidak ada lagi sapaan hangat dari pelayannya. Jangankan bilang makasih, senyum pun tak ada (soalnya tidak ada yang menunggu di depan).

8 Feb 2014

Tempat Makan Murah Enak Di Cianjur


Mencari tempat makan enak di Cianjur ya lumayan banyak. Setidaknya enak dan murah. Biasanya kalo ke Cianjur menyempatkan makan ke tempat ini. Mau tahu yang enak dan murah?

1. Mie Ayam Mang Memed.
Tempatnya gampang dicari. Tidak jauh dari TKC alias Tan Keng Cu, tempat roti dan kue. Mie ayam ini ada di jalan HOS Cokroaminoto. Kalau dari arah puncak, tinggal belok kiri ke arah bypass dan RSUD, lalu ambil kanan (jalan searah). Mie ayam ini beda sama di Jakarta, menurut ku. Sayur sosin nya banyak, empuk tidak pahit. Just try it. Harganya 9 ribu.

2. Bubur ayam
Bubur ayam Cianjur jelas berbeda. Rasanya cenderung asin, dan ada papais, sejenis sayuran bawang daun. Menurut ku hampir semua enak, tapi yang paling enak yang deket SD Siti Jenab, deket Hotel Aden. Bubur ini sudah pernah saya posting disini sebelumnya.

Masih banyak lagi, lain kali di postingan yang lain.

Wisata Kuliner Gudeg Fatmawati Jakarta Selatan


Ke tempat ini sebenarnya udah ada 3 kali. Tapi baru kali ini posting.

Nama tempatnya Gudeg Kendil Mas, ada sekitar akhir 2013, posisinya di jl Fatmawati daerah Dapur Susu, tidak jauh dari Giant dan apotek Bina Sehat.

Fasilitas disini:
- Parkir luas
- Ada area AC dan Non AC
- Toilet Pria dan Wanita dipisah, luas. Bersih.
- Ada mushola cukup luas
- Free Wifi

Pada kunjungan pertama dan kedua, rasanya rasa gudegnya enak. Tapi kenapa tadi ko kurang menggigit ya. Ada yang kurang.

Tadi ke tempat ini sekitar jam 3 sore, ada sekitar 4 meja di area non AC yang telah terisi. Kalo dihitung, di area non AC ada 16 meja. Selesai pilih meja, kita disodori menu. Saat kita mintakan baby chair, ternyata di tempat ini tidak tersedia. Waduh baru nyadar, kurang bersahabat buat anak kecil. Tidak ada playground dan juga baby chair.

Setelah pesan minum, dan seperti biasa, minuman datang cukup cepat. Berbeda dengan pesanan makanan. 3 Kali ke tempat ini, makanan yang kami pesan lama sekali datangnya. Padahal suasana tidak sebegitu ramainya. Sudah gantian ke toilet juga belum dateng pula.

Giliran dateng, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Nasi putih, dikelilingi gudeg, krecek, tahu dan orek tempe juga telor dan ati ampela, disajikan di atas piring putih yang telah dialasi daun pisang. Bukan daun pisangnya yang mengganggu, tapi kondisi daun pisang saat itu, ko dialasi daun pisang berwarna kuning. Walaupun bukan daun busuk, tapi kan bukan daun segar. Entah apa maksud dari mereka memberi alas daun pisang yang sebagian telah menguning.

Tanpa banyak komplen, karena sudah sangat kelaparan, langsung hajar saja. Makan berdua dengan anakku. Aku tak begitu memperhatikan, tapi nasi tadi sepertinya diguyur kuah. Apa yg sebelumnya juga sama, aku lupa lagi. Tapi yang jelas, kunjungan tadi agak mengecewakan. Gudegnya kurang enak, sate ati ampela, tapi ternyata ada usus dan lain-lain, padahal mending ati ampela aja, kan dipaketnya juga disebut, ati ampela, tanpa usus dll.

Tapi ya habis juga. Namanya kelaperan makan dari pagi cuma bubur doang.

Buat yang buru-buru kayanya tempat ini kurang asyik, harus nunggu rada lama. Kecuali yang mau santai. Atau mau sambil internetan bawa laptop sendiri, colokan buat charger nya sudah tersedia. Kalo masalah harga, ya standar aja, dari 15 ribu juga ada. Yang 2 ribu juga ada, air teh tawar hehe. Harga gudeg bervariasi, sekitar 20 ribuan. Selain menu gudeg, tersedia juga masakan ayam, lele, garang asam ayam, gurami, dll.

21 Nov 2013

Saung Panorama, Karang Tengah Cibadak Sukabumi


Hari Sabtu, minggu ketiga November 2013, sebenarnya perjalanan kami saat itu akan menuju Cianjur. Jakarta ke Cianjur, sekitar 120 km, perjalanan penuh tantangan :D
Tantangannya adalah sistem buka tutup di Puncak. Masalahnya, kami juga malas pergi pagi-pagi sekali menuju Puncak. Jadi ya sudah, dilakoni saja.

Berangkat dari Jakarta, perjalanan cukup lancar. Perjalanan dimulai pukul 8 pagi. Lewat tol, tidak ada masalah. Lancar. Perjalanan baru terhambat setelah bayar tol dan menuju Puncak. Mulai lepas gerbang tol, arah ke kiri, ke Puncak sudah mulai macet. Dan seperti biasa, banyak orang yang menawarkan jasanya menunjukkan jalan alternatif. Banyak sekali orang-orangnya.

Arus jalan sebelah kanan lumayan sedikit bergerak. Kami yang ada di sebelah kiri, lebih banyak mengistirahatkan kaki saja. Hingga mobil mendekati perbatasan jalan ke kiri ke Puncak, dan ke kanan ke Ciawi. Mobil lama sekali bergerak. Dan akhirnya diputuskan mengambil jalur ke Ciawi saja, menuju Sukabumi.

Tadinya masih berharap dari Ciawi bisa ke atas untuk menuju Puncak, tapi sama saja, macet juga. Akhirnya ambil jalan lurus menuju Sukabumi. Tujuannya Cianjur, tapi melambung melewati Sukabumi :(

Perjalanan ke Sukabumi dimulai. Overall, perjalanan cukup lancar kecuali saat melewati pasar, pasti selalu tersendat. Seperti di pasar Parung Kuda. Atau saat melewati jembatan yang sedang direnovasi, macetnya lumayan panjang, tapi masih bergerak.

Hingga akhirnya kami tiba di Cibadak Sukabumi. Para bocah juga sudah bangun dari tidurnya. Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Saatnya untuk makan siang. Mata langsung melihat kiri dan kanan mencari tempat untuk mengenyangkan perut. Sampai akhirnya mobil berlabuh di Rumah Makan Saung Panorama. Katanya lesehan dan ada live music. Saat kami parkir, ada satu mobil di parkir depan, dan satu mobil di dalam. Ternyata, saat masuk lebih ke dalam, tempatnya lebih luas, berupa saung-saung dan mobil bisa diparkir di dalam, dekat dengan saungnya masing-masing.

Kami memilih saung yang dekat, di atas kolam, jadi bisa ngasih makan ikan juga. Di depan saung ada Mushola yang lumayan besar dan bersih. Kolam ikan juga lumayan bersih dan tidak menimbulkan bau.
Pegawai tempat ini, yang berbaju oranye, datang untuk mencatat pesanan kami.

Atas saran dari pegawai tempat ini, kami memesan sop ikan Gurame (ikannya 8 ons katanya) dan juga karedok. Minum juice strawbery dan sprite. Teh tawar sudah lebih dulu disajikan tanpa diminta.

Pertama yang datang adalah minumannya. Kemudian tak lama makanan juga datang. Bisa dibilang, kami tidak usah menunggu terlalu lama. Sop Ikan Gurame, disajikan dalam mangkuk piring bening yang besar. Bisa untuk makan 3 orang. Karedok, dengan bumbu kacangnya, siap untuk disantap.

Keadaan kami yang kelaparan membuat piring kosong cepat terisi nasi. Sop ikan cepat sekali berkurang. Tak lupa karedok semakin menambah segar.
Sop ikannya enak, kuahnya mantap. Ikan guramenya dipotong terlalu besar. Dan sayang sekali, sepertinya dimasakn terlalu matang, jadi daging ikannya terlalu lembek. Karedoknya mantap. Bumbu kacangnya banyak, sayurnya seger, pedesnya pas.

Dengan sambil menjaga kedua anak kami, tangan kami bergerak kiri kanan, memasukkan nasi ke mulut, menjaga si kecil yang sering sekali kabur keluyuran, kadang menyuapi anakku yang besar ... haha ... riweuh paciweuh.

Akhirnya si kaka minta makan sendiri saja. Dan si adik juga disuruh makan sendiri saja. Namanya anak 1,5 tahun, makannya pasti berantakan. Remah bertaburan di lantai. Gapapa lah, yang penting kami bisa makan dulu untuk mengembalikan tenaga. Perjalanan masih jauh.
Saatnya melanjutkan perjalanan, sebelumnya untuk makan kami, kami harus mengeluarkan kocek sekitar 100 ribuan.

Jalanan Sukabumi, seperti hal tadi, lancar namun macet saat di dekat pasar. Dan tak lama kami mendapati petunjuk arah Bandung / Cianjur, jalannya masih baru. Lumayan masih sepi dan sangat lancar. Dan selanjutnya, kami banyak melihat rambu penunjuk jalan arah menuju Cianjur ...

Melewati jalur lingkar Sukabumi, kami melihat ada Saung Panorama lagi. Tempatnya sepertinya lebih besar. Dan banyak sekali mobil disini. Ternyata Saung Panorama lumayan rame. Barangkali hanya kami saja yang tidak tahu. Maklumlah, baru kali ini melewati Sukabumi.

10 Sept 2013

Saung Kuring, Tempat makan lesehan samping kolam


Sisa dari perjalanan ke Karawang, setelah sebelumnya posting mengenai hotel-hotel di Karawang, tak lupa pula posting tempat makan di Karawang.

Perjalanan dari Jakarta melalui Tol, kami keluar dari pintu tol Karawang Barat. Sepanjang jalan dari pintu Tol menuju Karawang, ada beberapa rumah makan yang bisa dicoba, salah satunya Saung Kuring, letaknya sebelah kiri jalan. Disamping Saung Kuring, ada juga tempat makan Sindang Reret, Saung Mang Ajo, juga Indo Alam Sari.

Memasuki Saung Kuring, kita bisa parkirkan kendaraan kita dengan cukup leluasa. Sayang tempat parkirnya tidak begitu teduh.
Fasilitas tempat makan Saung Kuring :

  • Area makan saung-saung lesehan pinggir kolam, ada juga saung lesehan di taman-taman, selain juga menyediakan area makan kursi dan meja.
  • Playground, sesuatu yang sekarang ini menjadi wajib, buat anak-anakku
  • Toilet lumayan bersih dan terjaga
  • Tempat cuci tangan dekat dengan saung
  • Karyawan cukup ramah dan murah senyum, rapi juga
Kolamnya bukan kolam air bersih dimana kita bisa melihat ikan yang berenang-renang, tapi seperti kolam pemancingan, tapi saat ditanya ke karyawannya, ternyata kolamnya tidak boleh dipancing :D
Ternyata memang tidak boleh dipancing karena saat aku cemplungin sisa nasi, terlihat ada ikan Gurame dan juga ikan Lele yang buesar banget. Sepertinya ikan Lele ada sebesar tangan orang dewasa. Gede banget sampai mulutnya menganga terlihat gede.
Walaupun seperti kolam pemancingan, tapi tidak menimbulkan bau, entah bau lumut ataupun bau anyir.
Saat kami menunggu hidangan, sebagai teman menunggu, disediakan pula otak-otak bakar yang masih hangat. Dengan lahapnya anakku memakan otak-otak itu. Termasuk aku juga karena rasanya memang enak :P

Pertama yang datang, seperti biasa, minuman dulu. Juice Strawberry dan Es Buah. Juice Strawberry-nya mantap menyegarkan, begitupun es buah-nya. Tak lama, akhirnya makanannya datang juga. Gurame Goreng Pete dan Karedok serta nasi dua porsi yang dibungkus oleh daun pisang.

Saat pertama melihat tampilan Gurame gorengnya, sempat merasa kecewa, daging ikan gurame terlihat seperti terlalu kering, dengan banyak cabe merah dan pete diantaranya. Tapi setelah dicoba, maknyus ...
Enak banget, ditambah nasi putih pulen nan wangi, mantap banget di lidah. Belum lagi karedok-nya, pedasnya dan seger banget. Benar-benar makan siang yang nikmat, membuat semakin nafsu menambah nasi :)

Anakku menikmati playground dan juga otak-otaknya, sedangkan yang kecil asyik dengan kesibukannya menyibukkan kami :D

Setelah puas dan kenyang, dan sesekali memberi makan Lele besar di kolam, tiba saatnya kami melanjutkan perjalanan. Total tagihan dengan menu
- Gurame goreng pete
- Karedok
- Nasi 4 (nambah 2)
- Juice Strawberry
- Es Buah
- Otak-otak 18 pcs
semuanya menjadi Rp. 200.000-an, dan ternyata otak-otaknya dihargai Rp. 3.500 per satuannya :P


21 Jun 2013

NIkmatnya Kopi Ladang


Menikmati waktu santai, selagi bisa, kami menyempatkan masuk ke Kopi Ladang  alias Ladang Coffee yang berada di jl. Paso 168 Jagakarsa. 

Suasana saat itu sepi sekali, maklum, kami kesana sekitar pukul 11.00 WIB. Hanya ada satu tamu saja disana. Itupun mungkin orang yang bermukim di sekitar itu, karena tidak ada mobil ataupun motor terparkir. 

Saat memasuki area Kopi Ladang, suasana cozy menyambut. Beberapa sofa merah maroon siap untuk menemani saat santai sambil menyeruput kopi. Tersedia juga toilet, beberapa majalah dan ... sepertinya ada Wifi kalau tidak salah, tidak sempat mencoba.

Mengenai harga kopinya, kisaran sekitar 28 - 35 ribu, kecuali untuk kopi luwak bisa 60 ribu. Anda bisa memilih aneka kopi. Aku sendiri saat itu memilih kopi Aceh Gayo sedangkan istri memilih Kopi Kintamani. Dan menurut istriku, kopinya harum, cenderung asam, tidak membuat perih di lambung. Padahal kopi bermerk seperti Ka*** A** juga berasa agak asam tapi sering membuat perih lambung.

Kopi Aceh Gayo, mantap, masih terasa ada asamnya sedikit, dan menyegarkan mata :D. Satu "porsi" kopi bisa untuk 2 cangkir. Benar-benar bisa membuat mata begadang :P

Selain memesan kopi, kami juga memesan singkong keju. Enak lho singkong kejunya. Seporsi cukup banyak juga takarannya. Snack lain yang tersedia seperti beberapa cake ataupun French Fries dll. Sayangnya saat pesan Cake Opera, rasanya kurang greget. Masih tetep yang markotop saat ini adalah Opera-nya Harvest.

  
Sajian kopi ala Ladang Coffe

Beberapa Outlet Kopi Ladang


13 Sept 2012

Gule Kepala Ikan Mas Agus


Ternyata, tak jauh dari rumah, ada tempat yang enak untuk dikunjungi. Namanya Gule Kepala Ikan, Mas Agus.
Tadinya kirain Gule kepala ikan mas, ternyata ga ada ikan mas ... salah baca.

Tempatnya enak, bertema garden, outdoor, tapi lumayan teduh. Lokasinya di jalan Lebak bulus 1. Kalau dari arah Fatmawati - Simatupang, nanti jalan yang ke arah Pondok Labu. Belok kanan ke jalan ini. Biasanya ada mobil/motor belok masuk jalan ini (dan kadang sering bikin macet).

Ada kolam ikan (tapi bukan ikan yang mau di gule hehe). Di sebelahnya ada toko kue. Jadi bisa jajan roti atau kue juga.

Berhubung kemarin datang ke tempat ini menjelang maghrib, jadi mo foto-foto juga hasilnya bakal mengecewakan. Ini aku pinjam dari http://www.jajalable.com/2012/08/gule-kepala-ikan-mas-agus.html
Wuih ... buat yang suka mengotori tangan, ini dia makanan paling mantap. Kalau pakai sendok dan garpu, sepertinya kenikmatan akan berkurang. Makanya, di buku menu disediakan "tata cara" menikmati gule kepala ikan ini, diantaranya 
- cuci tangan sebelum makan
- jangan lupa berdoa
- singsingkan lengan baju
- dll (lupa nih)

Harga sepiring gule kepala ikan kakap utuh cukup murah, 20 ribu. Yang lainnya ya berkisar di harga itu. Ga mahal-mahal. Plus nasi seporsi 4000-an.

Yang bikin kurang nyaman sebenarnya karena banyak nyamuk. Mungkin gara-gara menjelang malam. Entah kalau datangnya siang, apa nyamuk akan sebanyak itu.
Selain ikan kakap, tersedia juga olahan ikan patin. Baik ikan kakap ataupun patin, bisa dinikmati sebagai gule dan juga sebagai tom yam. Tinggal pilih mana yang suka.

28 May 2012

Jalan Lagi, Makan Lagi, Ampera Cianjur


Weekend di Cianjur, akhir mei 2012.
Starlet kesayangan :)
Aku menyempatkan makan jelang siang ke Ampera Cianjur. Lokasinya gampang ditempuh, baik dari Jakarta maupun Bandung. Dari Jakarta, saat mau masuk Cianjur, langsung saja belok kanan melewati Hypermart. Terus lurus dan Ampera ada di sebelah kiri.

Jika dari Bandung, dari jalan Raya Bandung, masuk ke By Pass Cianjur, tinggal terus lurus melewati Hypermart, Rumah makan Empat Dara, lalu tibalah di Ampera.

Ada dua Ampera di area ini. Yang satu, setelah Empat Dara, namanya juga Ampera, hanya dia menyebutkan cabang Jakarta. Satu lagi agak jauh, namanya Ampera cabang Soekarno Hatta Bandung. Ini yang aku maksud.

Tempatnya luas, parkir mobil banyak, meja makan macam-macam. Ada duduk standar dalam ruangan, duduk di luar dengan pemandangan sawah, duduk lesehan di dalam dan duduk lesehan di luar. Kebetulan aku sendiri memilih lesehan di luar, dengan dengan permainan buat anakku.

Adem tempatnya
Dengan nuansa religi Cianjur yang kental, Ampera ini dilengkapi dengan DUA mushola yang terpisah, dan benar-benar mushola, tidak seperti di kota besar atau mall yang menyebutkan mushola berupa ruang kecil di sebelah toilet di lantai Basement yang pengap dengan asap knalpot.
Mushola-nya asri, tempat wudhu khusus, toilet juga ada.

"Tempat" favorit anakku
Seperti halnya Ampera lainnya, makan disini secara prasmanan dan lauk bisa di masak lagi. Saat itu aku dan istri memesan Gurame Bakar, Tamusu, Ayam goreng, Es Teh Tawar, Jeruk hangat, Pepes Teri, Tumis Jamur. Mantap. Pesanan tidak begitu lama. Kebetulan juga saat itu jauh dari makan siang. Disebut sarapan sudah telat, disebut makan siang belum waktunya. Orang dari benua sana menyebutnya Brunch (Breakfast Lunch ?)

Total pesanan seharga 63.500 rupiah !!! Nasi 9 ribu, tamusu 7500, ayam goreng 10.500, pepes teri 4000, tumis jamur 5000, es teh manis 2500, jeruk hangat 8000 dan gurame (sebesar telapak tangan orang dewasa) 17000. Dan masakannya enak-enak. Sambalnya mantap, ada sambal goreng dan sambal dadak (super pedas). Lalapan tidak dihitung, makan sepuasnya :)


Berikut alamat Ampera Cianjur:
jl. KH Abdullah B Nuh 19
Rancagoong Cianjur
(0263) 288870

FREE WiFi juga (tapi sayang aku tidak sempat mencobanya) karena sibuk main dengan si kecil, kadang ikut juga main ayunan dan jungikit-jungkitan :D

1 Apr 2012

Makan lagi di Ampera Cinere


Kali pertama, datang ke Ampera Cinere, saat itu banyak sekali mobil yang parkir. Kami melaju dengan motor kesayangan. Kali kedua, saat libur panjang Maret 2012, kembali bersama motor kesayangan, kali ini sepiiii sekali. Hanya ada satu mobil plat D. Mungkin yang lain malah hunting ke Bandung. Aku yang orang Bandung malah males buat berweekend di Bandung, sudah mah setiap hari di Jakarta ini macet, weekend ke Bandung malah kena macet pula. Padahal pengen kembali ke Bancakan, menikmati hidangan Sunda Tempo Doeloe ...

Kembali ke Ampera Cinere, kali ini yang ketiga kalinya menumpang mobil kesayangan, kurang lebih berselang semingguan dari libur panjang Maret. Mobil yang mejeng di parkiran AMpera sekitar 6 mobil. Di dalem, di area lesehan sudah hampir penuh, tinggal 2 meja lagi. Yang di area depan malah tidak ada yang ngisi. Yang dateng ke Ampera sepertinya senang duduk2 (selonjoran kaki ke bawah, ngegantung), seperti kami juga. Sekaligus melihat pemandangan ke arah parkiran motor Cinere Mall :)

Masuk ke Ampera, langsung menuju meja pesanan, tunjuk masakan yang ada, kebetulan ingin mencoba nasi merah juga. Tunggu di meja, tak lama pesanan makanan diantar. Tak lupa sambal dan lalap ambil sendiri. Sambalnya tersedia yang pedas dan yang agak pedas-manis gitu. Terserah mau yang mana. Lalapan lumayan segar, hijau menggoda. Dan terakhir makan lalapannya, kacang panjang mentahnya lumayan manis, enak.

Suasana masih sepi menjelang dinner
Kalo mengenai rasa, sepertinya tidak terlalu spesial. Dan kunjunganku terakhir, aku terus terang agak kecewa dengan rasa pepes terinya. Pas aku sobek daun pisangnya, tercium bau agak basi. Entahlah, apa hidungku yang ada masalah. Udang gorengnya, yang ditusuk sate buat lauk makan anakku, banyak banget minyak gorengnya. Tanganku belepotan kanan-kiri buat menguliti si udangnya. Tapi bakwan jagungnya enak. Pepes ayam juga enak. Cuma harus hati-hati, takut kena basi. Pernah mau pesan pepes teri atau tahu, aku urungkan niat karena tinggal dua atau tiga porsi lagi. Ah, daripada takut asem, mending pesen yang udah pasti saja.

Apa karena saat itu Ampera agak sepi, padahal aku datang saat Weekend (atau pas weekend malah ga ada banyak tamu ke Ampera).
Waktu di Bandung, aku paling suka Ampera di deket Yogya, di Alun-alun. Makannya selalu rame, kadang ga kebagian duduk, harus nunggu. Duduknya juga di meja panjang bareng-bareng. Pokoknya saling senggol. Masakannya enak-enak.

Waktu di Ampera Soekarno-Hatta (Bandung), suasananya ga gitu rame, agak formal. Masakannya juga kurang seenak yang di alun-alun. Banyak cabang Ampera, ada juga yang di Foodcourt King Plaza Bandung, tetep aja tidak seenak yang di Alun-alunnya. Lagipula, rata-rata yang di dalam mall gitu, kurang begitu ngantri.

Kembali ke Ampera Cinere, sewaktu selesai bersantap disana, menuju pulang menyusuri meja pesanan, aku baru menyadari kalau di bawah meja pesanan, terpajang beberapa wayang golek (aku lupa tokoh siapa saja, yang jelas tokoh satria). Tapi aneh, kenapa ditempatkan di bawah ? Siapa yang mau lihat ?

Sayang sekali, padahal wayang goleknya dikemas bagus, yang ditampilkan juga para ksatria, tapi siapa yang mau lihat ? KEnapa tidak dipajang di atas ? Masih banyak dinding yang kosong ? Ah payah nih pengelolanya ! Kesel ? Jelas ! Kan sembari makan seharusnya aku bisa menikmati kegagahan ksatria wayang golek.

Sekedar info, harga Ampera Cinere tidak sebegitu menakutkan seperti Bumbu Desa. Beberapa kali kunjungan ke Ampera Cinere, kurang lebih sekitar 50-60 ribuan lah, dengan menu seperti nasi 2 porsi, es teh manis 2 (teh tawar hangat gratis), pepes ayam, pepes ikan, tamusu, udang.

27 Mar 2012

Makan malam di Bumbu Desa Carefour Lebak Bulus


Maret 2012, pada suatu kesempatan weekend, kami dan si kecil mengunjungi kembali Bumbu Desa
di Carefour Lebak Bulus. Saat itu sekitar jam 7 malam, suasana sepi di Bumbu Desa. Dengan greeting khas bumbu desa, kita akan disapa dengan sapaan khas Sunda, sebagaimana tempat ini memang menyajikan masakan khas Sunda.
"Wilujeng Sumping ..." kata mereka semua.

Setelah masuk, kita langsung memilih makanan dan memesan minum. Setelah itu baru menuju meja. Lalapan, sambal dan air teh tersedia di tengah ruangan, ambil sendiri. Walau begitu, air teh juga akan dihidangkan oleh pelayan saat kita menunggu makanan di meja kita. Tunggu punya tunggu, akhirnya pesanan kita datang. Saat itu kami pesan 2 nasi (dihidangkan dalam bakul kecil), Iga bakar, Sop buntut, Oseng pare, Pepes ikan,Es podeng dan es campur, total sekitar 175 ribu.

Iga bakarnya empuk. Enak juga sih, begitupun sop buntutnya (kata istriku). Seporsi sop buntut, cukup banyak malah. Kalau pepes ikannya sih dibungkus untuk dibawa pulang. Es podengnya, menurutku kurang begitu enak. Akhirnya ga dihabiskan tuh es nya. Nasinya, walaupun pesan untuk dua porsi, tapi akhirnya tidak habis juga dan masih tersisa di dalam bakul kecil.

Selesai makan, istirahat sejenak lalu meninggalkan meja setelah pembayaran diselesaikan. Saat meninggalkan Bumbu Desa, pelayannya meneriakkan "Semah Mulih" disusul teriakan para pelayan yang lainnya "Hatur Nuhun .....". Tapi malam itu, sepertinya para pegawai Bumbu Desa kurang bersemangat, sehingga teriakan Hatur nuhun hanya terdengar begitu saja, datar, dan sepertinya hanya 2 atau 3 orang saja yang mengucap seperti itu. Mungkin karena saat itu sepi pelanggan, sepertinya teriakan mereka juga agak sepi :(

30 Jan 2012

Akhirnya nyempetin makan steak obonk


Sabtu minggu terakhir Januari, akhirnya berhasil mencuri waktu menuju steak obonk di Cinere. Sebelumnya kami ke baso rawit bewok di jl lebak bulus, special request dari istriku. My little girl juga makan basonya banyak (bukan baso rawitnya tentu). Aku sengaja ga makan, lagi ga nafsu makan baso, apalagi yang pedes.

Selesai dari baso rawit, langsung tancap ke arah cinere. Ada warung steak obonk. Sering lewat tapi belum mampir. Parkirannya ga sebegitu besar sih, untungnya lagi ga pake mobil, pake motor aja, lebih gampang parkir. Parkir mobil cuma beberapa, itu juga sudah terisi. Di sebelah pintu masuk ada yang lagi kipas-kipas bakarin otak-otak. 2.500 sebungkusnya, dihidangkan saat kita menunggu pesanan steaknya.

Ruangannya lumayan, banyak ventilasi dan sore-sore di saat Jakarta sering kehujanan, jadi tidak terasa panas, malahan terasa anginnya gede, kaya lembang atau puncak (kecuali dinginnya). 
Menu yang tersedia ada steak lokal juga non lokal. Kalau yang lokal kisaran 18 ribu (medium) dan 25 ribu (large). Untuk yang impor kisaran 33 ribu ke atas. waktu itu aku pesen tenderloin large plus milkshake vanila.

Pertama datang orderan minumku, milkshake vanila (Rp. 7.500, biasa. Kalo yang spesial 8.500, pake eskrim). Sruput ... mmm... sepertinya kurang mengena. Rasa vanila-nya ada, cuma kurang kuat. Begitupun rasa susu-nya. Kurang nendang. Aku lebih suka milkshake vanila-nya Country Steak atau Pizza hut. Trus datang lah si Tenderloin, di atas piring putih, plus-plus.

Sepertinya yummy ... coba potong dikit, hmm ..... enak !
Steak-nya tidak terlalu tebal, BBQ, ga kecewa deh. Tiap potongan masuk mulut ... yummy. Jangan lupa kentangnya, wortel juga, buncis juga. Ga lama, steak sudah menghilang dari piring. Tidak penasaran dan tidak mengecewakan. Maaf ya abuba, ternyata obonk lebih enak. Tapi Country steak tetep tujuan utama :D

Selain steak, obonk juga menyediakan spagetti, ribs (ya iyalah, namanya juga ribs and steak) dll. Jadi yang ga suka steak, bisa coba menu lainnya. Sip lah.

10 Jan 2012

Abuba Steak


sajian steak abuba
Jumat 6 Januari 2012, 
Karena atasanku ulang tahun, beliau mengajak orang-orang kantor untuk makan-makan di Abuba Steak. Tempatnya yang di Cipete, Jaksel.

Tempatnya cukup luas, lantai 2 masih bisa dipakai untuk orang sekantor yang jumlahnya nyampe 150-an orang. Aku kira parkir mobil hanya bagian depan saja yang cukup untuk mungkin 5 mobil. Ternyata parkir di dalam lebih luas, bahkan disediakan vallet parking. Ah dasar norak, baru kali ini ke Abuba.

Tunggu punya tunggu, akhirnya steak (yang aku lagi inginkan) datang di hadapan. Steak-nya lumayan gede, cukup kenyang lah. Disajikan diatas piring putih, steak ditemani teman-teman lamanya, kentang goreng dan juga campuran buncis, jagung, wortel dan kacang polong. Ambil sambal saus, tumpahkan sedikit di atas piring, dan mulai berjuang memotong dagingnya.

Hap … potongan daging pertama masuk ke mulut. …
Ah … rasanya biasa saja. Dagingnya tidak terlalu lunak, saus kari tidak terlalu terasa. Apa lidahku saja yang rada aneh. Tapi menurut lidahku, tidak seenak Steak di Country Steak. Kalau tempat memang Country Steak tidak sebesar ABuba, tapi rasa lebih enak (menurut lidahku).

Dan kenapa di Abuba tidak menggunakan Hotplate jadi daging masih senantiasa hangat. Ah memang kunjungan pertama kadang mengecewakan, dan mungkin tidak ada kunjungan kedua (kecuali ada yang mentraktir lagi :D ).
Tadinya kunjungan pertama ini (gara-gara di traktir makan) akan menjadi survey, suatu saat akan kembali dengan anak dan istriku. Tapi sepertinya tidak jadi.
Mending coba Steak Obonk, belum pernah tuh (ah payah nih). Lain kali mo coba Warung Steak Obonk, di deket Cinere sepertinya ada.

Maaf saja, bagiku steak abuba tidak kena di lidah. Pelayanannya ramah, tempatnya luas, parkir luas, tapi rasa tidak nyaman di lidah. Ya … ini kan pendapat pribadi, mungkin saja Anda lebih menyukai Abuba dari Steak manapun … 
Kalau mau tahu, coba ke situsnya (ini bener situsnya atau bukan ya ?) Soalnya seperti masih tahap dibangun nih situs.
Situsnya http://www.abubasteak.com

Lokasi
1. Jl. Cipete Raya
2. Ruko Batavia Kelapa Gading
3. Jl. Wahid Hasyim (Sekitar Sabang)

sumber gambar dan jika ingin mendengar tentang abuba lainnya baca disini 

8 Jan 2012

Sumsung Pak Tardja


Gara-gara liat liputan kuliner 3 rasa di JakTV, jadinya hari minggu itu kami ke RM Pak Tardja.
Hari minggu 8 Januari, sepanjang pagi Jakarta diguyur hujan. Masih untung karena hari Minggu Jakarta lebih lengang dari biasanya. Sambil mengajak si kecil keluar rumah, kita berangkat ke tempat tujuan.


Berangkat dari Pondok Labu, hujan masih mengguyur, tiba di Leuser, hujan masih juga belum berhenti. Pertama datang ke Leuser (setelah lihat di google map :D ) dari arah Pakubuwono belok kiri langsung Leuser. Lihat kiri-kanan, mobil jalan perlahan. Suasana jalan sangat lengang,

4 Oct 2011

D'Cost ternyata mengganti mie pesanan


Saat itu beberapa minggu usai Lebaran, kami sempatkan makan di D'Cost Blok M. Kami pesan beberapa menu biasa saja. Mie goreng dan ah lupa satu lagi pesan apa. Si pelayan "mencatat" pesanan kami dengan gadgetnya. Ah menurutku sih ribet banget. Lebih cepat pakai manual saja, seperti di BMK or Solaria.

Mungkin biar lebih cepat online dengan bagian kitchen, tapi aku saja sampai menunggu mengatakan dari satu menu ke menu lain. Satu menu disebut, lalu jemari si pelayan menyentuh-nyentuh layar gadgetnya, aku nunggu lalu nyebutin lagi. Ampe kesel juga nunggu dia "mencatat" pesanan kami.

Tunggu punya tunggu, ternyata cukup lama juga menunggunya. Masih mending nunggu pesanan pizza kali. Tapi akhirnya pesanan kami datang juga. Dan ternyata, mie goreng pesanan istriku masih jauh dari matang. Setengah matang juga tidak. Mungkin seperempat. Terpaksa menyeruput dulu sup Tomyam-nya. Mau tanya, pelayannya pada sibuk di meja-meja lainnya. Susah mendekat. 

Pas kebetulan ada order checker, istriku memberitahu dia, mie-nya masih mentah. Cuma ngasih tahu. Honestly, bukan mau komplen, tapi sekedar ngasih tahu. Si pelayan cuma bilang "oohhh…" sambil berpamit dia menuju meja lainnya.

Kukira omongan kami tidak ditanggapi, tapi ternyata beberapa saat kemudian ada pelayan lain menanyakan keadaan mie-nya. Dan dia menawarkan untuk diganti utuh. Kita iya-kan saja. Tak lama, mie sudah diganti dan kali ini sudah matang. Wuih … hebat juga respon D'Cost. Cuma selera kita sudah agak hilang. Ya sudah, cicip-cicip mie-nya.

Good Job

22 Sept 2011

Baso Rawit Bewok




Buat para pecinta makanan daging bulat alias meatball alias Baso, ada satu referensi tempat jajanan baso murmer di daerah pondok labu. Namanya Baso Rawit Bewok.

Yang unik dari baso rawit ini, tentu sesuai dengan namanya, Baso Rawit. Basonya merupakan baso dengan campuran rawit yang dihancurkan. Bikin lidah terbakar ! Berbeda halnya dengan baso urat, baso telor atau baso halus, di baso rawit Anda akan menemukan biji-biji rawit. Bahkan kuahnya pun menurutku sudah sangat pedas setelah baso rawit dipotong-potong. 

Bukan hanya soal keunikan rawit di dalam baso, tapi juga rasa yang enak. Terus terang, kuliner Jakarta menurutku tidak sebaik kuliner Bandung. Perlu beberapa bulan untuk memaksakan lidah ini bersahabat dengan kuliner Jakarta. Dan baso rawit ini ternyata lumayan enak di lidah. (maksudku, tidak seperti baso jakarta lainnya). 

Dan mungkin banyak yang setuju denganku, karena tempat baso ini jarang sekali sepi. Tempatnya bersih, Penyajiannya juga bersih. Kira-kira bisa menampung 16 orang. Tempatnya memang tidak ber-AC, tapi disediakan kipas di dinding kira-kira masing-masing meja 1 kipas. 

Parkir tersedia untuk beberapa motor. Pokoknya tidak akan menyesal ke tempat ini (dan saya bukan sponsor mereka lho :P)
Jika Anda tertarik dengan makanan baso super Hot, datang saja ke tempat ini. Tepatnya ada di jalan Lebak Bulus. Dari Fatmawati, daerah Dapur Susu, belok kanan. Ikutin saja jalur angkot S12. Siap-siap Hot.

7 Aug 2011

Buka puasa di Poins Square, serasa di negeri asing






Sabtu 6 agustus 2011, selesai mengunjungi pusat ikan hias di jalan Sumenep, kami putuskan untuk buka puasa di Poins Square, lebak bulus. Waktu menuju buka puasa masih lama sehingga bisa kami gunakan berkeliling sekedar cuci mata.

Menjelang adzan magrib, kami mencari tempat makan untuk membatalkan puasa. Karena istri ingin mencoba dim sum yg deket hokben, lalu kamipun menuju kesana. Pesan dimsum plus minum, lalu duduk menunggu waktu berbuka. Waktu menunjukkan pukul 17.30

Tidak seperti di Bandung, saat jam 17.00 biasanya tempat makan sudah dipenuhi orang2 yg siap berbuka. Di Poins saat itu, orang lumayan banyak yg sedang bersiap, namun masih banyak jg yg kosong. Waktu adzan maghrib masih kurang seprempat jam, aku liat di meja yang lain, 2 laki-laki sedang menyantap makanan di mejanya. Di meja yang lainnya, seorang ibu muda sedang ngemil semacam kacang.

Entah dari lantai berapa, suara anak muda dan iringan band-nya, yang menurutku sangat berisik dan lagu yg dibawakan juga bukan lagu religi seperti halnya suasana ramadhan. Band baru berhenti sekitar 5 menit sebelum buka.

Jam 18.00 waktu yang ditunjukkan oleh HPku. Tidak terdengar adzan, tidak ada pengumuman baik dari pengelola tempat makan maupun dr pengelola gedung bahwa waktu berbuka telah tiba. Aku melihat sekeliling, ada yg mulai menikmati hidangannya. Sudah adzan kah? Atau mereka memang sedang tidak puasa? Tak ada geliat tanda buka puasa, tak ada nuansa ramadhan. Aku berpikir, bukankah ini bulan ramadhan, yg biasanya nuansa ramadhan, mulai dari interior, musik dll menunjukkan semangat ramadhan? Dan saat itu, di Poins square tempat aku pertama kali berbuka disini, tak kurasakan semangat itu. Bahkan pengumuman saja tidak ada. Pengelola tempat makan cuek, pengelola gedung seolah tak ada. Beberapa menit kemudian, suara band kembali terdengar, entah menyanyikan lagu apa.

Aku teringat saat menunggu buka puasa di sekitar alun2 bandung, pedagang minum mulai mendenti g-dentingkan botol minumnya, memanggil orang untuk bersiap berbuka. Seolah kita keluarga yg mau berbuka bersama. Di sini, jangankan suasana buka puasa bersama, tempat makan saja bebas terbuka.

Satu hal lagi, seperti halnya mall-mall lainnya, kenapa ya mushola, ditempatkan senantiasa di lantai basement, lantai yang penuh dengan asap, panas dan terkesan sangat seadanya. Padahal itu tempat untuk menghadap penciptanya sendiri. Bayangkan, mall dengan 5 atau 7 lantai, menempatkan ruang untuk menjadi mushola di lantai basement, basement paling-paling bawah pula.

Selamat datang di dunia (lain)

12 May 2011

Mencari Makan di Jakarta


Cukup sulit untuk membiasakan lidah ini mencicipi masakan Jakarta. Namun semua harus diadaptasikan. Seiring waktu, beberapa tempat aku kunjungi berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, tayangan tv ataupun referensi lainnya. Seperti tempat-tempat makan berikut ini :

STEAK :
1. Country steak
2. Warung Steak Obonk
3. Abuba Steak
4. Stallo Steak
5. Steak 21
6. Reborn Steak
7. Rollies Steak


Bakso / Bakmi
1. Bakso Malang Karapitan
2. Bakso Rawit Bewok
3. Bakmi Raos
4. Gokana Ramen


Martabak :
1. Martabak Bandung 76

Sop / Gulai :
1. Sop Sumsum Pak Tardja
2. Gulai Kepala Ikan Agus

Seafood
1. D'Cost

Lain-lain
1. Bumbu Desa
2. Bebek Slamet
3. Kopi Ladang
4. Ampera Cinere

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls